Pertemuan Konservasi Orangutan Regional Kalimantan Tengah ini telah dilaksanakan pada tanggal 16-17 September 2011 oleh Forum Regional Kalimantan Barat. Kegiatan ini merupakan tindaklanjut dari pertemuan-pertemuan sebelumnya yang dilakukan pada tahun 2010 tentang Rencana Aksi dan Strategi Konservasi Orangutan Indonesia 2007-2017; Pengantar Pertemuan Regional dari Kepala Balai KSDA Kalimantan Tengah dan FORINA; Paparan Hasil survey Potret Kondisi orangutan di Kalimantan Tengah oleh Yayasan Teropong; Paparan Kondisi Orangutan di Program Reintroduksi Orangutan Kalimantan Tengah di Nyaru Menteng oleh Yayasan BOS; Paparan Hasil Monitoring Kondisi Orangutan di OCC dan Q-OFI oleh Balai KSDA Kalimantan Tengah; Paparan Best Management Practice (BMP) Orangutan oleh Perwakilan 3 (tiga) Pihak (Pemprov. Kalimantan Tengah, Yayasan BOS, WILMAR Group); serta Diskusi yang berkembang selama berlangsungnya Pertemuan Regional.

Pertemuan Konservasi Orangutan Regional Kalimantan Tengah di fasilitatori oleh Balai KSDA dengan menghasilkan beberapa rumusan masalah, antara lain:

  1. Terhadap 952 orangutan yang berada di 2 (dua) pusat rehabilitasi orangutan di Kalimantan Tengah perlu segera disusun program kegiatan pelepasliarannya sampai dengan tahun 2015 oleh masing-masing pelaksana rehabilitasi orangutan (PROKT-NM dan OFI).
  2. Penghentian masuknya orangutan ke pusat rehabilitasi yang berasal dari pembukaan lahan.
  3. Upaya penghentian masuknya Orangutan ke Pusat Rehabilitasi dari Perkebunan agar menerapkan BMP. Untuk itu, perlu dilakukan pembahasan parsial penerapan BMP untuk pemegang hak konsesi dalam rangka mendukung program konservasi orangutan yang terdapat di wilayah hak konsesi.
  4. Bagi konsesi yang ada Orangutan di dalamnya agar memastikan Orangutan tersebut berada di kantong-kantong habitat atau koridor–koridor satwa.
  5. Rescue dan translokasi orangutan liar merupakan pilihan terakhir dalam upaya penanganan konflik orangutan dengan manusia.
  6. Mendorong keluarnya perubahan SK Menteri Kehutanan Nomor 280/Kpts-II/1995 tentang Pedoman Reintroduksi Orangutan dalam rangka mempercepat proses pelepasliaran orangutan yang masih berada di pusat-pusat rehabilitasi.
  7. Para pihak yang memiliki data terkait kondisi populasi dan habitat orangutan wajib menginformasikannya kepada BKSDA Kalimantan Tengah dalam rangka pemetaan kawasan yang memiliki potensi untuk dijadikan lokasi pelepasliaran dan translokasi orangutan.
  8. Untuk lokasi-lokasi yang telah diketahui memiliki potensi dan dicadangkan untuk dijadikan lokasi pelepasliaran orangutan agar segera dilakukan survey kelayakan teknis, ilmiah dan legal serta peningkatan koordinasi dan konsolidasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kawasan.
  9. Standarisasi metode penentuan lokasi-lokasi yang dikategorikan sebagai kantong-kantong habitat yang sesuai untuk lokasi pelepasliaran dan translokasi orangutan.
  10. Mendukung pemberian penghargaan untuk perusahaan pemegang hak konsesi yang telah melakukan upaya-upaya nyata konservasi orangutan dan habitatnya.
  11. Memperkuat pengelolaan habitat orangutan di dalam kawasan konservasi dengan peningkatan pengamanan kantong-kantong habitat orangutan.
  12. Penegakan hukum untuk tindak pidana bidang kehutanan yang terkait dengan konservasi orangutan, melalui peningkatan pemahaman peraturan yang berlaku bagi para penegak hukum.
  13. Mengamanahkan kepada BKSDA Kalimantan Tengah untuk menginisiasi kembali FORINA Kalimantan Tengah.

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.