Pada hari Kamis, 12 November 2015, Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Luar Negeri, TNI, beserta Keduataan Thailand di Jakarta menyambut kedatangan 14 orangutan Indonesia di Lapangan Terbang Halim Perdanakusumah. Orangutan tersebut terdiri atas 1 orangutan sumatera (Pongo abelii) dan 13 orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Seluruh orangutan tersebut dibawa pulang ke tanah air menggunakan pesawat Hercules C-130 milik TNI Angkatan Udara. Setibanya di Jakarta, 14 orangutan tersebut akan menjalani proses karantina di intalasi karantina Taman Safari Indonesia. Proses rehabilitasi akan dilakukan untuk memulihkan kesehatan serta perilaku liar dari seluruh orangutan tersebut. Jika kesehatan dan perilaku liarnya dapat pulih, maka orangutan tersebut akan dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya sesuai dengan jenis orangutan tersebut.

Proses repatriasi ini merupakan kali ketiga repatriasi orangutan dari Thailand ke Indonesia, setelah sebelumnya dilakukan pada 2006, 2009 dan 2015. 14 orangutan yang direpatriasi pada 2015 ini pada mulanya ada 11 individu yang diduga diselundupkan dari Indonesia dan ditemukan di Phuket pada 5 Februari 2009; serta satu orangutan yang telah disita terlebih dahulu pada Desember 2008. Seluruh orangutan tersebut dirawat di Khao Pratubchang Breeding Center dan di antara semua orangutan yang dirawat tersebut melahirkan 2 bayi pada 2013 sehingga total ada 14 orangutan yang dipulangkan kembali ke Indonesia. Sebelumnya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama Taman Safari Indonesia dan Forum Orangutan Indonesia melakukan kunjungan ke Bangkok untuk persiapan pemulangan orangutan tersebut, khususnya dalam aspek pemeriksaan kesehatan pada Agustus 2015.

Repatriasi orangutan ini merupakan salah satu langkah penting Pemerintah Indonesia dalam memerangi tindak kejahatan penyelundupan satwa liar dan upaya konservasi satwa langka. Dalam CITES (the Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) Orangutan termasuk dalam Appendix 1, yang berarti orangutan (termasuk bagian tubuhnya) tidak boleh diperdagangkan di manapun juga. Sementara itu, berdasarkan IUCN (The International Union for Conservation of Nature) red-list, orangutan Orangutan Kalimantan berada dalam status endangered species (genting), sementara Orangutan Sumatera berada dalam status critical endangered (kritis). Dengan adanya kegiatan ini, diharapakan pemerintah dapat melestarikan orangutan yang menjadi satu-satunya kera yang masih hidup di wilayah Asia khususnya di Indonesia yang memiliki populasi tertinggi.

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.