Orangutan merupakan satu-satunya kera besar yang berada di Benua Asia, sementara 3 kerabat kera besar lainnya, yaitu Gorila, Simapanse dan Bonobo terdapat di Benua Afrika. Populasi orangutan saat ini hanya terdapat di dua pulau, yaitu pulau Sumatera dengan jenis (Pongo abelii) dan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Populasi orangutan sumatera  hanya tersebar di bagian utara dari pulau Sumatera, yaitu di Sumatera utara dan Aceh (Populasi di jambi merupakan orangutan hasil pelepasliaran kembali). Pada bulan awal November ini telah resmi di sepekati bahwa orangutan sumatera di wilayah Hutan Pegunungan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara dikatagorikan sebagai spesies baru yang memiliki nama ilmiah Pongo tapanuliensis. 

Penemuan orangutan tapanuli ini bermula dari ekspedisi di hutan pegunungan terpencil Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara pada tahun 1997 lalu. Spesies orangutan tapanuli tersebut awalnya merupakan populasi dari spesies orangutan sumatera yang berada dibagian paling selatan. Lalu kemudian, para peneliti berusaha mengungkap keanehan genetik, morfologi serta perilaku dari spesies orangutan tersebut yang cenderung lebih dekat dengan orangutan kalimantan. Pada awal bulan November ini, para peneliti yang dipimpin oleh Zurich University-swiss bersama dengan peneliti dari Indonesia dan dari negara lainnya menyepakati bahwa orangutan tapanuli sebagai spesies ketiga dari orangutan setalah orangutan kalimantan  dan orangutan sumatera. Hasil penelitian ini telah dilaporkan di salah satu Jurnal internasional, Current Biology dan dapat di akses pada website www.cell.com

Bukti genetik dari ketiga spesies orangutan tersebut menunjukan perbedaan yang sangat besar. Bahkan, perbedaan genetik itu melebihi kerabat dari kera besar lainnya di Afrika, seperti gorila dataran tinggi dan rendah ataupun simpanse dan bonobo. Para peneliti menduga orangutan tapanuli merupakan keturunan langsung dari nenek moyang mereka yang  bermigrasi dari Dataran Asia pada jaman Pleistosen (+ 3.4 juta tahun silam).

Berdasarkan bukti morfologi juga menunjukan perbedaan yang signifikan. Rambut yang menutupi tubuh dari orangutan tapanuli lebih tebal dan tampak keriting jika dibandingkan dengan 2 spesies orangutan lainnya. Sementara itu berdasarkan pengukuran (morfometri) tulang tengkorak dari spesies ini menunjukan bahwa ukuran tengkorak dan tulang rahangnya lebih kecil. 

Perbedaan lainnya juga terlihat dari anggilan jarak jauh / longcall (cara jantan menyebarkan informasi) dan komposisi pakan. Orangutan tapanuli punya jenis panggilan jarak jauh yang sedikit berbeda dari sepesies orangutan lainnya. selain itu, jenis ini memiliki beberapa jenis pakan yang unik yang hanya dapat di ditemukan di Ekosistem Batang Toru.

 

 

Populasi orangutan tapanuli saat ini hanya berjumlah kurang dari 800 individu yang tersisa di Ekosistem Batang Toru. Populasi spesies ini  diperkirakan mendiami wilayah dengan luas 110.000 hektar dari total 150.000 luas kawasan di Ekosistem Batang Toru yang terfragmen menjadi dua kawasan hutan (Blok barat dan timur) yang dipisahkan oleh lembah dari Patahan Sumatera. Selain itu, ada populasi kecil di Cagar Alam Sibual-buali di sebelah tengara blok barat. Perlu upaya besar dari semua pihak untuk berusaha menjaga keberlangsungan hidup orangutan tapanuli mengingat jumlah populasi yang kecil dengan sebaran yang terbatas. 

 

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.