Orangutan merupakan primata frugivora, yaitu primata yang memiliki proporsi jenis pakan terbesar berupa buah. Buah memiliki ketersediaan yang tidak sama pada setiap waktu. Orangutan merespon ketersediaan tumbuhan berbuah dengan mengubah strategi penjelajahan dan komposisi pakan.

Komposisi pakan orangutan kalimantan di Stasiun Penelitian Orangutan Tuanan (sumber: Morrogh-Bernard et al. 2009)

Orangutan remaja yang sudah mulai mandiri akan menjadi kompetitor bagi induk yang sudah memiliki anak baru. Kondisi ini membuat orangutan remaja harus menyesuaikan penjelahannya dengan individu lain untuk mencari buah sebagai pakan. Respon orangutan terhadap pengaruh fluktuasi tumbuhan buah tidak hanya tercermin berdasarkan ukuran daerah jelajah, melainkan kisaran area yang dimanfaatkan pada daerah jelajah tersebut.

Stasiun Penelitian Orangutan Tuanan (SPOT) merupakan hutan rawa gambut sebagai habitat orangutan. Kawasan ini pernah mengalami aktivitas selective logging oleh perusahaan dan juga pembalakan liar oleh masyarakat setempat. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya banyak gap di kanopi hutan yang menyebabkan pertumbuhan tanaman pionir, seperti liana. Dampak lainnya dari penebangan di SPOT yaitu hilangnya air dari gambut melalui kanal yang dibuat dan digunakan untuk mengangkut kayu ke arah Sungai Kapuas. Seluruh kondisi ini bisa mengubah pola produksi tumbuhan berbuah yang mempengaruhi penggunaan penjelajahan orangutan remaja. 

  

Kondisi Stasiun Penelitian Orangutan Tuanan (sumber: Tuanan Orangutan Research Project)

Hasil Penelitian yang dilaksanakan dari bulan Agustus 2013 hingga Juli 2014 di SPOT mencatat total ada 62 jenis pohon dan 15 jenis liana yang menjadi pakan orangutan selama pengamatan. Pola kelimpahan tumbuhan berbuah di SPOT tidak menunjukan fluktuasi yang besar di sepanjang tahun.

Tumbuhan berbuah sebagai pakan orangutan dari golongan pohon memiliki kelimpahan yang lebih tinggi dibandingkan liana pada setiap bulannya. Namun, periode kelimpahan tertinggi dari tumbuhan berbuah golongan pohon terjadi hanya satu kali, yaitu bulan November hingga Januari. Sementara itu, tumbuhan berbuah golongan liana memiliki pola yang berbeda, dengan periode kelimpahan tertinggi terjadi dua kali, dari bulan November hingga Januari dan April hingga Juni.

 

Grafik batang kelimpahan tumbuhan berbuah pohon (A) dan liana (B) pada setiap bulan di Stasiun Penelitian Orangutan Tuanan (Ket: warna abu-abu gelap: buah dari seluruh jenis, dan abu-abu muda:buah dari jenis pakan orangutan). 

Selain itu, pola distribusi spasial kelimpahan tumbuhan berbuah antara liana dan pohon menunjukan perbedaan. Kelimpahan tumbuhan berbuah golongan pohon memiliki distribusi kelimpahan buah yang merata, sedangkan liana mengelompok di daerah barat dan selatan.

Orangutan remaja merespon periode ketersediaan buah tinggi dengan meningkatkan jelajah harian dan bulanan mereka serta mengecilkannya ketika periode ketersediaan buah dalam kondisi rendah.

Selain itu, orangutan remaja sering menggunakan area di daerah jelajah dengan kelimpahan tumbuhan berbuah golongan pohon pada tingkat sedang hingga tinggi. Kondisi ini menunjukan bahwa tumbuhan berbuah golongan pohon menjadi pilihan utama dibandingkan liana.

Tumpang tindih antara daerah jelajah oranguatn remaja dengan distribusi kelimpahan tumbuhan berbuah selama satu tahun (A. pohon dan B  liana).

Jika kelimpahan tumbuhan berbuah golongan pohon mengalami penurunan (periode rendah), maka orangutan remaja mengubah jelajah bulanan mereka ke area yang memiliki kelimpahan tumbuhan berbuah golongan liana pada tingkat sedang hingga tinggi. Perilaku penjelajahan ini merupakan adaptasi orangutan untuk mengoptimalkan penggunaan habitat yang berkualitas rendah agar bisa bertahan dalam lanskap hutan yang terdegradasi.

Hasil penelitian ini telah di Publikasi pada Jurnal Biodiversitas Volume 18, Number 4, October 2017 dan dapat di download di sini

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.